Provinsi Bengkulu terletak di pantai Barat Pulau Sumatra yang dari sisi geografisnya sekitar 46,54% atau 920.964 ha lahannya adalah hutan suaka. Kawasan tersebut merupakan sumber wisata alam (ekowisata) yang melimpah dengan keunikan flora dan faunanya. Letaknya di sebelah Barat pegunungan Bukit Barisan dan kawasan hutan ini masih dihuni berbagai hewan liar seperti harimau, gajah, badak dan tempat tumbuhnya bunga terbesar di dunia Rafflesia Arnoldi.
Wilayahnya memanjang dari perbatasan dengan provinsi Sumatra Barat sampai ke provinsi Lampung berjarak sekitar 567 kilometer persegi dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dengan garis pantai sepanjang 525 km.
Penduduknya mencapai 1,6 juta orang dan sebagian besar (96%) adalah beragama Islam, sisanya beragama kristen, budha dan hindu. Masyarakat aslinya berasal dari beragam etnik dengan bahasa daerah dan dialek yang berbeda seperti bahasa Melayu, Rejang, Enggano, Serawai, Lembak, Pasemah, Mulak Bintuhan, Pekal dan Mukomuko.
Dari sisi budaya, masyarakat Bengkulu terdiri atas dua kelompok besar yaitu Orang Rejang dan Orang Serawai. Orang Rejang ini terbagi atas dua bagian lagi yaitu mereka yang tinggal di wilayah dataran tinggi dan mereka yang tinggal di sekitar pantai yang disebut sebagai Rejang Pesisir. Orang Serawai bermukim di selatan Bengkulu, mereka masih memiliki hubungan dengan Orang Pasemah yang bermukim di kawasan pegunungan di dekat Pagaralam dan Gunung Dempo, di Sumatra Selatan.
Dari sisi sejarah, Bengkulu banyak mempunyai hubungan emosional dengan bangsa Eropa, khususnya Inggris terlihat dari banyaknya peninggalan sejarah pada masa penjajahan Inggris. Demikian juga dengan catatan sejarah pada jaman kerajaan hingga pra kemerdekaan yang dapat dilihat dalam bentuk peninggalan seperti makam Sentot Alisyahbana maupun rumah kediaman Bung Karno yang menjadi presiden pertama RI.
Sejarah
Pada abad ke-13, Bengkulu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit yang memerintah dari
Pulau Jawa. Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah Bengkulu sebelum abad ke-13. Wilayah Bengkulu kemudian diperintah oleh berbagai kerajaan kecil seperti Kerajaan Sungai Lebong yang berkuasa di wilayah Curup.
Pada tahun 1685, Inggris yang tiga tahun sebelumnya gagal menguasai Banten masuk ke Bengkulu untuk mendapatkan hasil bumi yaitu rempah-rempah.Namun upaya awal Inggris untuk mendapatkan rempah-rempah tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Ekspedisi yang mereka lakukan di Bengkulu terhambat oleh kondisi geografis Bengkulu dan hujan yang terus menerus sehingga rasa bosan dan penyakit Malaria membunuh banyak orang Inggris yang saat itu berada di Bengkulu.Keadaan mulai berubah ketika Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1818 diangkat menjadi penguasa Bengkulu dengan jabatan sebagai Gubernur
Jenderal. Dalam waktu yang tidak lama, Raffles berhasil meningkatkan perdagangan rempah-rempah di Bengkulu sehingga menguntungkan, selain itu ia juga membuka perkebunan kopi, pala dan tebu dimana hasil perkebunan ini sangat laku di pasaran internasional.
Bengkulu menjadi pusat operasi perusahaan Inggris di Sumatra. Sejumlah pos perdagangan dibentuk selain untuk berdagang juga untuk mengawasi daerah pendudukan Inggris di Bengkulu. Namun pada masa itu perebutan daerah kekuasaan wilayah perdagangan terjadi silih berganti antara negara-negara Eropa untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia. Belanda akhirnya menguasai sebagian besar wilayah Bengkulu dan pada tahun 1824, Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda. Sebagai gantinya Inggris mendapatkan Malaka dan Singapura.
Kota Bengkulu
Kota Bengkulu adalah ibukota dari Provinsi Bengkulu yang dibangun oleh Inggris pada tahun 1685 dan disebut dengan nama Bencoolen. Pada tahun 1825 kota Bengkulu diambil alih oleh Belanda hingga kedatangan Jepang pada tahun 1942. Dari sejarahnya dapat dimengerti bahwa Bengkulu pada masa lalu adalah sebuah kota kolonial. Perdagangan dan interaksi dengan bangsa asing sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu.
Letak kota Bengkulu berada di pinggir laut, namun demikian sebagian besar bangunan penting di kota ini terletak agak jauh dari pantai kecuali kawasan Benteng Marlborough. Berbagai fasilitas hotel, restoran, diskotik, sejumlah kantor perusahaan penerbangan, money changer dan perbankan tersedia untuk memberikan berbagai kemudahan bagi wisatawan dan sedikitnya ada sembilan obyek wisata yang bisa dikunjungi di wilayah kota ini.
Salah satu kegiatan seni budaya yang telah menjadi kalender tetap di ibukota provinsi ini adalah Festival Tabut yang diselenggarakan tanggal 10 Muharram. Tradisi ini sendiri dibawa oleh orang-orang India yang menjadi tentara Inggris pada tahun 1685. Salah satunya yang dikenal sebagai ulama adalah Syeh Burahnudin atau populer dengan nama Imam Sengolo. Tabot sendiri merupakan simbol kepahlawanan cucu dari Nabi Muhammad SAW yaitu Hasan dan Husein yang wafat dalam suatu peperangan di gurun Karbala, Irak.
Monumen Thomas Parr
Jalan-jalan di Kota Bengkulu untuk melihat berbagai peninggalan kolonial dapat dimulai dari ujung barat Jl Jend A Yani. Disini terdapat Monumen Thomas Parr. Monumen peninggalan Inggris yang terletak di depan Pasar Baru. Monumen ini dibangun untuk mengenang Thomas Parr, seorang Gubernur Bengkulu dari Inggris yang tewas ditikam dan kemudian dipenggal kepalanya oleh penduduk setempat pada tahun 1807 ketika ia tengah beristirahat di rumahnya.
Thomas Parr diduga dibunuh oleh orang-orang Bugis yang bekerja sebagai anggota keamanan perusahaan dagang Inggris (East India Company). Thomas Parr merasa khawatir dengan perkembangan kekuatan pasukan Bugis ini dan berupaya untuk mengurangi peran mereka, namun orang Bugis merasa tidak senang hingga akhirnya ia terbunuh. Inggris membalas kematian Parr dengan menembaki sejumlah penguasa lokal yang dicurigai berada dibalik pembunuhan tersebut dan membumihanguskan desa-desa tempat tinggal mereka.
Benteng Marlborough
Benteng Marlborough terletak tidak jauh dari Monumen Thoma Parr di ujung Jl Ahmad Yani. Pada tahun 1719, Benteng Marlborough menjadi pusat kedudukan tentara Inggris di Bengkulu. Benteng berbentuk segi-empat dengan ukuran panjang 240 meter dan lebar 170 meter ini didirikan oleh The British East India Company pada tahun 1713 dan selesai pada 1719. Marlborough dibangun untuk menggantikan benteng di dekatnya yang ada sebelumnya bernama Fort York, namun benteng Fort York ini sekarang sudah tidak terlihat lagi bentuknya
kecuali hanya sisa-sisa fondasinya saja yang masih ada.
Benteng Marlborough pernah diserang dan jatuh dua kali ke tangan para penyerangnya,pertama pada tahun 1719 oleh para pemberontak lokal dan kedua pada tahun 1760 oleh armada angkatan laut Perancis yang kebetulan lewat di perairan Bengkulu. Pada tahun 1825 benteng ini digunakan oleh Belanda hingga kedatangan Jepang pada tahun 1942.
Disini terdapat ruang tahanan Presiden Soekarno ketika ia pertama kali tiba di Bengkulu dalam pembuangan sebelum dipindahkan ke sebuah rumah di pusat Kota Bengkulu. Pada masa kemerdekaan benteng ini sempat digunakan oleh polisi Indonesia sebelum diperbaiki dan dijadikan obyek wisata sejarah pada tahun 1984 hingga sekarang.
Saat ini, Benteng Marlborough telah dijadikan museum yang terbuka untuk umum. Koleksinya antara lain benda-benda ukiran tua dan salinan surat-surat dari masa pemerintahan Inggris.
Monumen Inggris
Dari Jl Ahmad Yani menuju ke timur, di Jl Santoso, terdapat monumen peninggalan kolonial lainnya yaitu Monumen Inggris yang berada di dekat pantai.Monumen ini dibangun untuk mengenang Kapten Robert Hamilton, seorang pemimpin pasukan Inggris yang tewas pada tahun 1793.
Makam Eropa
Beberapa ratus meter di utara Monumen Inggris terdapat Pemakaman Eropa yang berada di belakang sebuah gereja kecil di Jl Ditra. Orang-orang yang dimakamkan di sini adalah kaum kolonial asal Inggris dan Belanda yang sebagian besar tewas karena penyakit Malaria yang menyerang mereka pada akhir abad ke-18 dan 19. Tiga anak Raffles yang meninggal karena serangan malaria diduga dikubur di pemakaman ini. Sayangnya banyak makam yang berada di kompleks ini telah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Rumah Soekarno
Jika Anda berjalan kaki dari Monumen Inggris ke timur maka Anda akan menemui bekas rumah Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Indonesia pertama Soekarno. Rumah ini ditempati Soekarno bersama istrinya Inggit dan putri angkat mereka Ratna Juami selama Soekarno dibuang oleh Belanda ke Bengkulu antara tahun 1938 hingga 1941.
Letaknya di Jln Soekarno-Hatta dengan sebuah beranda di depannya dimana Soekarno sering pula duduk bersama istri keduanya, Fatmawati, seorang gadis cantik asal Bengkulu. Rumah yang kini berfungsi sebagai museum ini menyimpan sepeda, lemari kayu, pakaian dan buku-buku berbahasa Belanda peninggalan Soekarno.
Masjid Jamik Bengkulu
Selama masa pembuangannya di Bengkulu, Soekarno yang berlatar pendidikan sebagai seorang insinyur bangunan sempat merenovasi sebuah masjid tua yang berada di tengah Kota Bengkulu tepatnya di persimpangan Jl Sudirman dan Jl Suprapto.
Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Bung Karno. Renovasi masjid dilaksanakan pada tahun 1938, Bung Karno selain berperan sebagai arsitek dan membuat maket Masjid Jamik, juga engawasi langsung proses pemugarannya serta memilih sendiri bahan-bahan yang akan igunakan.
Museum
Tempat lain yang dapat Anda kunjungi selama berada di Kota Bengkulu antara lain Museum Negeri Bengkulu yang terletak di Padang Harapan di dekat kantor wisata di Jl Pembangunan. Museum ini memiliki koleksi mulai dari batu-batu pra-sejarah, gendang tembaga kuno dan rumah adat kayu. Koleksi lainnya adalah kain batik Bengkulu yang disebut kain besurah dengan motif gabungan antara kaligrafi Arab dan motif matahari dari masa Majapahit. Di museum ini juga terdapat tekstil dari Pulau Enggano beserta alat tenunnya.Benda lainnya yang terdapat di museum ini adalah Tabut yaitu sebuah menara yang tingginya sekitar 10 meter terbuat dari kayu dan kertas yang digunakan dalam arak-arakan melalui jalan-jalan protokol Kota Bengkulu untuk memperingati kematian Hasan dan Husein, cucu nabi Muhammad yang tewas dalam pertempuran Karbala di Irak pada tahun 680. Acara mengarak Tabut ini merupakan tradisi peninggalan aliran Syiah di Bengkulu dan diadakan setiap tanggal 10 Muharram.
Wisata Alam
Wisata alam yang terdapat di sekitar kota Bengkulu antara lain Pantai Nala yang memanjang ke selatan hingga menyambung ke Pantai Panjang Gading Cempaka. Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar serta arus bawah yang kuat sehingga pengunjung harus hati-hati jika ingin berenang di pantai.Berenangnlah di lokasi yang dinyatakan aman.Danau Dendam Tak Sudah terletak sekitar 8 Km di tenggara kota Bengkulu.Tempat ini cukup menarik bagi pengunjung yang menyukai wisata alam dengan panorama yang cukup indah. Danau ini dikelilingi bukit, dan dari puncak bukit ini terlihat pegunungan Bukit Barisan di kejauhan. Di bagian utara danau ini terdapat kawasan perlindungan alam dimana tumbuh anggrek air liar (Vanda Hookeriana).
Pulau Tikus terletak 5 Km di lepas pantai Bengkulu. Pulau karang berukuran panjang 100 m dan lebar 60 m ini merupakan bagian atas batu karang yang menonjol keluar dari permukaan laut, sedangkan sebagian besar pulau ini adalah karang yang berada di bawah permukaan laut.
Bengkulu Utara
Di wilayah Bengkulu Utara terdapat jalur jalan menyusuri pantai yang menuju ke Padang, Sumatera Barat. Jalan ini merupakan jalur alternatif selain jalan Trans Sumatra bagi mereka yang akan menuju ke Sumatera Barat. Dari kota Bengkulu perjalanan melalui jalan pantai ini dapat ditempuh selama 16 jam menuju ke Padang dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Namun jalur jalan ini agak rawan longsor khususnya selama musim hujan.
Dari Kota Bengkulu perjalanan melalui jalur ini dapat dilakukan dalam beberapa tahap. Kota pertama yang dapat ditemui di jalur ini adalah Lais, disini jalan raya hanya terletak 100 meter dari pantai. Jika hendak bermalam, anda dapat menghubungi penginapan EllyÌs House yang berada di depan kantor pos di Jl Utama 21 yang merupakan jalan terbesar di Lais.
Obyek wisata alam di Kabupaten bengkulu Utara cukup beragam namun belum seluruhnya dilengkapi infrastruktur yang memadai. Ada air terjun 9 tingkat di Desa Margasakti sekitar 36 km dari Arga Makmur yang dapat ditempuh dengan kendaraan umum dilanjutkan dengan kendaraan jenis jeep sampai ke batas kawasan wisata air terjun itu dilanjutkan dengan jalan setapak.Tujuan wisata lainnya Sungai Suci, suatu persinggahan untuk menikmati
pemandangan indah. Ada juga air terjun Kemumuh, Pusat Pelatihan Gajah di Seblat seluas 20 ha dan Air terjun Kemumu yang terletak di desa Kemumu dengan luas kawasan 30 ha dan Air terjun Batu Layang, sekitar 9 km dari Argamakmur, ibukota Bengkulu Utara.
Di Tebing Binjai antara jalur lintas Bengkulu-Kepahang tumbuh puspa langka nasional yaitu bunga Rafllesia Arnoldy. Bunga ini pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles dan Dr Joseph Atnold, seorang botanis pada 20 Mei 1919 di suatu tempat dekat Sungai Manna, Lubuk Tapi, Bengkulu Selatan. Sejak itu bunga ini dikenal sebagai landmark provinsi Bengkulu. Bunga terbesar yang pernah berkembang mencapai 120 cm.
Bengkulu Selatan
Wisata alam mendominasi obyek-obyek wisata di daerah Kabupaten Bengkulu Selatan dengan sejumlah pantai. Keindahan panorama Pantai Duayu Sekundang misalnya mengundang kunjungan wisatawan lokal. Pantai ini lokasinya di Kelurahan Pasar Bawah, Manna yang dapat ditempuh kendaraan roda empat.Ada juga Pantai Muara Kedurang di Desa Tanjung Aur, sekitar 12 km dari kota Manna dan berada dipinggir jalan lintas Bengkulu-Lampung. Di sini pengunjung
bisa menikmati perpaduan alam pantai dan muara sungai yang jernih dan menjadi pemandian alam.Obyek lainnya adalah Pantai Way Hawang di Desa Way Hawang dan Pantai Linau di tepi jalan lintas Bengkulu-Lampung yang memiliki pasir putih dan merupakan teluk sehingga airnya tenang dan bersih. Bunga Rafflesia Arnoldi juga tumbuh di Desa Talang Tais kecamatan Kaur Utara. Bunga unik yang tidak berbatang dan berdaun ini mekar selama dua minggu.
Seluma
Kabupaten Seluma yang baru terbentuk di Bengkulu Selatan juga memiliki obyek wisata alam yang terdiri dari pantai, air terjun dan obyek wisata sejarah berupa meriam peninggalan Inggris. Obyek wisatanya meliputi pantai Seluma,pantai Maras, pantai Ngalam dengan pasir putihnya, air terjun Bekinyau, bendungan air Seluma, sumber air panas Lubuk Resam dan obyek meriam peninggalan Inggris.Kota Tais yang semula sebagai ibukota Kecamatan Seluma kini menjadi ibukota Kabupaten Seluma yang dilalui kendaraan lintas Barat Sumatra-Jawa yaitu Jakarta-Liwa-Bengkulu_Muko-muko-Padang. Obyek wisata alam yang ada belum sepenuhnya dilengkapi dengan sarana dan prsarana yang memadai.Oleh karena itu pemerintah setempat tengah menata obyek wisata yang ada dan mengundang investor terutama untuk Bendungan Seluma sebagai sarana rekreasi keluarga dan taman hiburan, Pantai Seluma dan Air terjun Batu Bekinyau yang menjadi andalan dan berada di jalur wisata provinsi.
Rejang Lebong
Kota Curup, ibukota Kabupaten Rejang Lebong terletak sekitar 85 Km di timur laut kota Bengkulu adalah sebuah kota kecil yang terletak di suatu lembah di kaki pegunungan Bukit Barisan. Kawasan lembah di tempat ini merupakan salah satu sumber air bagi Sungai Musi yang
mengalir hingga ke kota Palembang. Kota pegunungan yang berhawa dingin ini dapat dicapai dengan bis selama tiga jam yang berangkat dari pusat pasar kota Bengkulu.
Kondisi jalan antara Bengkulu dan Curup relatif cukup baik, jalan ini menanjak melewati hutan di kawasan pegunungan Bukit Barisan. Dari ketinggian bukit terlihat pemandangan kota
Bengkulu dan Samudera Indonesia yang membentang luas menyajikan panorama yang indah.
Kawasan di sekitar Curup merupakan lahan pertanian yang menghasilkan padi dan sayuran seperti wortel dan kubis yang dijual di pasar kota Curup.Tempat-tempat penggilingan padi yang digerakkan dengan tenaga air dapat ditemui di kawasan persawahan di sekitar Curup. Penduduk di desa-desa di sekitar Curup ini masih tinggal di rumah adat panggung yang terbuat dari kayu.Kota yang terletak ditengah-tengah antara kota Bengkulu dan Lubuk Linggau
ini memiliki beberapa tempat menarik untuk dikunjungi. Tempat-tempat tersebut berada di sekitar Bukit Barisan antara lain: mata air panas dan air terjun yang berada di Suban, tempat ini dikenal dengan nama Lokasi Wisata Suban Air Panas.Sarana yang dimiliki cukup lengkap yaitu kolam renang air panas, kamar pemandian air panas, kios cindramata dan fasilitas umum lainnya.Tempat ini cukup ramai dikunjungi orang pada akhir minggu. Dahulu, pada zaman Hindu kawasan ini digunakan sebagai tempat beribadah dan bersemedi bagi penganut agama Hindu. Dari Curup terdapat jalan menuju utara ke Muara Aman. Pada masa kolonial dulu tempat ini merupakan pusat penambangan emas. Jalan yang menuju ke Muara
Aman ini akan melewati suatu kawasan wisata Danau Tes yang populer di kalangan wisatawan setempat. Danau cantik yang terletak di pegunungan Bukit Barisan ini merupakan danau terbesar di Bengkulu.Obyek lainnya adalah Air Terjun Kepala Curup dengan ketinggian 100 meter dan Danau Bestari yang terletak dipinggir jalan negara antara Curup-Lubuk Linggau
dan menjadi tempat istirahat dengan udara yang sejuk. Bukit Kaba menjadi tempat yang pas bagi penggemar wisata petualangan, Anda dapat mendaki hingga ke puncak gunung Kaba (1.937 m) yang terletak 19 Km di timur Curup.Dari pusat kota Curup, Anda dapat menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi menuju ke arah Lubuk Linggau sejauh 16 Km hingga tiba di persimpangan yang menuju ke Posko pendakian ke Kawah Kaba. Gunung yang lebih sering dinamakan Bukit Kaba ini memiliki dua kawah yang mengeluarkan gas belerang dan dikelilingi hutan lebat.
Taman Nasional
Provinsi Bengkulu memiliki dua taman nasional yang merupakan kawasan perlindungan alam. Di utara terdapat Gunung Bukit Gedang yang merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci-Seblat yang sangat luas. Taman ini merupakan rumah bagi hewan-hewan liar seperti gajah Sumatera, badak dan harimau (lihat penjelasan mengenai Taman Nasional Kerinci-Seblat di bagian Sumatera Barat atau Jambi). Di bagian selatan Bengkulu terdapat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang juga memiliki koleksi hewan liar yang hidup di alam bebas seperti harimau,gajah, buaya dan kambing gunung.
Pulau Enggano
Pulau Enggano adalah kumpulan enam pulau kecil di Samudra Hindia dengan panjang pulau mencapai 29 km dan lebar 8 km dan dikenal pula dengan taman lautnya. Dari mana asal-usul penduduk asli yang bermukim di pulau seluas 443 Km2 ini masih tanda tanya., namun mereka sudah menetap sejak abad ke 16 dan pertama mendarat di pulau itu tahun 1596. Mereka dipercaya berasal dari Sumatera dan pindah ke Enggano ketika orang Melayu mulai menetap di Sumatera.Penduduk Enggano hidup dari bercocok tanam seperti bersawah, berkebun seperti kopi, lada, cengkeh dan kopra. Binatang ternak seperti sapi, kerbau dan babi jumlahnya sangat banyak di pulau ini. Bahasa ibu penduduk di sini termasuk rumpun Austronesia dengan kehidupan sistem matrilineal dari garis ibu.Pulau ini memiliki lima desa: Banjar Sari di pantai utara; Meok di barat; Kaana, Kahayapu dan Malakoni yang merupakan pelabuhan berada di pantai timur.Pulau ini sebagian besar merupakan dataran rendah dengan pantai yang berawa- rawa.
